Kumuhnya Peradaban Dunia Eropa Abad Pertengahan dulu.
![]() |
| @Ilustrasi |
Seandainya
kita bisa masuk kemesin waktu menuju abad pertengahan seperti abad ke-10 Masehi
(ke-4 Hijriah) dan terbang menyusuri kota-kota dunia Islam dan kota-kota dunia
Barat, kita akan terkaget-kaget melihat perbedaan besar
Antara kedua
dunia itu. Anda akan tercengang melihat sebuah dunia yang penuh dengan
kehidupan, kekuatan dan peradaban, yakni dunia Islam, dan sebuah dunia lain
yang primitif, sama sekali tidak ada kesan kehidupan, ilmu pengetahuan dan
peradaban yakni dunia Barat.
Marilah kini
kita bandingkan kota-kota di dunia itu. Kita mulai dengan dunia Barat untuk
melihat bagaimana penghidupan penduduknya, keluasan kota-kotanya dan martabat
orang-orangnya. Dalam artikel ini saya hanya ingin membahas keadaan dunia eropa
tempo dulu yang masih sangat primitif.
Dalam buku sejarah umum karya Lavis
dan Rambou dijelaskan bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M
hingga sesudah abad ke-10 M merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh dan
liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat dan diperkuat dengan
tanah halus. Rumah-rumahnya dibangun di dataran rendah. Rumah-rumah itu
berpintu sempit, tidak terkunci kokoh dan dinding serta temboknya tidak
berjendela. Wabah-wabah penyakit berulang-ulang berjangkit menimpa
binatang-binatang ternak yang merupakan sumber penghidupan satu-satunya.
Tempat
kediaman dan keamanan manusia tidak lebih baik dari hewan. Kepala suku tinggal
di gubuknya bersama keluarga, pelayan dan orang-orang yang punya hubungan
dengannya. Mereka berkumpul di sebuah ruangan besar. Di bagian tengahnya
terdapat tungku yang asapnya mengepul lewat lobang tembus yang menganga di
langit-langit.
Mereka semua
makan di satu meja. Majikan dan isterinya duduk di salah satu ujung meja. Sendok
dan garpu belum dikenal dan gelas-gelas mempunyai huruf di bagian bawahnya.
Setiap orang yang makan harus memegang sendiri gelasnya atau menuangkannya ke
mulutnya sekaligus. Majikan beranjak memasuki biliknya di sore hari setelah
selesai makan dan minum. Meja dan perkakas kemudian diangkat. Semua orang yang
ada di ruangan itu tidur di tanah atau di atas bangku panjang. Senjata mereka
ditaruh di atas kepala mereka masing-masing karena pencuri saat itu sangat
berani sehingga orang dituntut untuk selalu waspada dalam setiap waktu dan
keadaan.
Pada masa
itu Eropa penuh dengan hutan-hutan belantara. Sistem pertaniannya terbelakang.
Dari rawa-rawa yang banyak terdapat di pinggiran kota, tersebar bau-bau busuk
yang mematikan. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah
yang dicampur dengan jerami dan bambu (seperti rumah-rumah desa kita setengah
abad yang lalu). Rumah-rumah itu tidak berventilasi dan tidak punya kamar-kamar
yang teratur. Permadani sama sekali belum dikenal di kalangan mereka. Mereka
juga tidak punya tikar, kecuali jerami-jerami yang ditebarkan di atas tanah.
Mereka tidak
mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dapur dibuang di depan rumah
sehingga menyebarkan bau-bau busuk yang meresahkan. Satu keluarga semua
anggotanya (laki-laki, perempuan dan anak-anak) tidur di satu kamar bahkan
seringkali binatang-binatang piaraan dikumpulkan bersama mereka. Tempat tidur
mereka berupa sekantung jerami yang di atasnya diberi sekantung bulu domba
sebagai bantal. Jalan-jalan raya tiada ada saluran airnya, tidak ada batu-batu
pengeras dan lampu.
Kota
terbesar di Eropa berpenghuni tidak lebih dari 25.000 orang.
Begitulah keadaan bangsa Barat pada abad
pertengahan sampai abad ke-11 Masehi, menurut pengakuan para sejarawan mereka
sendiri.Sumber : Dr. Mustafa As-Saba'i
Editor : Syd

